Berilah dirimu didamaikan dengan Allah

Geschreven door Jan Boersema op .

Khotbah pada 11 mei 2014, HUT STT SETIA yang ke -27

Bacaan Alkitab: 2 Kor.5: 11-21

Nas: 2 Kor. 5: 20b: Berilah dirimu didamaikan dengan Allah.

Nas ini sangat penting bagi STT SETIA, mengingat misinya, dan bagi mahasiswa-mahasiswa dan dosen-dosen masing-masing. Nas ini juga berperan dalam sejarah teologi. Beberapa teolog yang amat berpengaruh bersandar pada ucapan Paulus dalam fasal ini. Sebelum saya menyebut beberapa nama, saya mengingatkan akan studi saya sendiri dan matakuliah yang saya terima di Kampen.

Pada tahun 1969 saya masuk kuliah dan satu tahun kemudian, pada tahun 1970, dr C. Trimp dilantikan sebagai mahaguru di alma mater kami di Kampen, bagian diakoniologi. Istilah itu akan diterangkan sebentar. Pidato pelantikan berjudul “Legitimasi untuk pelayanan pendamaian”, berdasarkan 2 Kor. 5:18. Dalam ceramah itu ia mempertahankan keyakinan A. Kuyper dan melawan pandangan-pandangan baik dari F. Schleiermacher (yang disebut teolog yang paling besar dari abad yang XIX) maupun K. Barth (yang disebut teolog yang paling besar dari abad yang ke XX). Dalam hal apa A. Kuyper melawan F. Schleiermacher dan dalam hal apa C. Trimp melanjutkan pandangan itu dengan melawan K. Barth juga?

Terdahulu saya sebut tema sebuah khotbah Schleiermacher tentang 2 Kor. 5:17,18: “Bahwa kita tidak dapat belajar apa-apa dari murka Allah”. Menurut Schleiermacher membicarakan murka Allah berarti memiliki pandangan yang sangat terbatas terhadap Tuhan Allah. Pengertian murka itu datang dari orang-orang Yahudi. Paulus mengajar bahwa Allah tidak bermurka lagi dan bahwa manusia sudah didamaikan dengan Allah. Teologi Schleiermachter itu dapat dicoraki sebagai teologi pengalaman. Titik tolaknya bukan penyataan Allah yang dari atas, tetapi perasaan manusia yang dari bawah. Mengenai alma mater kamu, SETIA, yang merayakan HUT-nya hari ini, saya yakin bahwa teologi yang diajar di sini tidak didasarkan atas pengalaman-pengalaman dan perasaan-perasaan manusia tetapi atas Firman Tuhan yang diilhamkan Roh Kudus, seperti saya belajar di Kampen dulu.

Mengenai Karl Barth: 2 Kor. 5:19a merupakan tema dari seluruh karyanya Kirchliche Dogmatik: Sebab Allah mendamaikan dunia dengan diriNya oleh Kristus. Bagian b tidak dihiraukan, yaitu bahwa Allah telah mempercayakan berita pendamaian itu kepada para rasul. Karl Barth mendasarkan teologinya tidak atas perasaan manusia tetapi atas Firman Tuhan dari atas. Barth sangat menguatirkan bahwa Firman Tuhan akan dianggap manusiawi. Karena itu ia mengatakan tentang pemberitaan firman, atau khotbah, dua hal yang kelihatannya bertentangan. 1. Khotbah adalah Firman Tuhan yang dikatakan oleh Allah sendiri. 2. Khotbah adalah upaya gereja yang ditugaskan untuk menjadi pelayan bagi Firman, sehingga nas Alkitab diterangkan. Kedua segi ini saling memperlengkapi, dan kebenaran adalah di tengah dan tidak bisa dipahami oleh manusia. Teologi Bart dinamakan dialektis, dari dialog: selalu ada dua kutub, dua unsur yang berlawanan, yang sama-sama penting dan sama-sama membentuk kebenaran, tapi kebenaran itu tidak bisa ditanggapi.

Jadi, khotbah adalah pelayanan kepada Firman. Sekaligus Barth enggan untuk mengedepankan jabatan dalam gereja, sebab seorang yang berjabatan bisa menjadi sombong. Yang boleh disebut sebagai jabatan adalah tugas jemaat seluruuhnya. Dan karena itu ay 19 bagian b tidak dihiraukan, yaitu bahwa Allah mempercayakan berita pendamaian kepada rasul-rasul. Sedangkan bagian a salah ditanggapi juga, yaitu bahwa Allah mendamaikan dunia dengan diriNya oleh Kristus. Tafsiran Barth adalah: Allah telah berada di dalam Kristus, dan karena itu Allah mendamaikan dunia dengan diriNya.

Berarti: dengan penampakan diri Allah dalam Kristus manusia (siapapun juga) sudah didamaikan dengan Allah. Akhirnya dapat disimpulkan bahwa pendamaian itu adalah umum, untuk semua orang.

Saya yakin bahwa STT SETIA mempunyai pandangan yang berbeda dengan Barth terhadap Firman Tuhan dan terhadap khotbah. Yaitu, bahwa Firman Tuhan datang dari atas, karena pengilhaman oleh Roh, dan dipercayakan kepada gereja untuk dikabarkan. Dalam gereja jabatan adalah penting, tugas pekabaran Injil penting. Sekalipun Firman Tuhan datang Roh Kudus, dalam segi lain Firman Tuhan boleh dianggap seperti tulisan-tulisan biasa, dengan kosakata biasa dan tatabahasa biasa. Bahasa Alkitab tidak sakral dan isinya dapat diterangkan dengan kemampuan membaca/ menganalisa/ menerangkan sebagaimana ada pada manusia. Dan menyangkut pendamaian: Allah mendamaikan dunia dengan diriNya dan pelayanan pendamaian itu dipercayakan kepada gereja, sebab dari Firman Tuhan kita tahu tentang pendamaian oleh Kristus itu. Yang menerima Firman itu akan diselamatkan, yang menolaknya akan binasa. Tidak ada pendamaian umum.

Kembali kepada teologi yang sudah saya sebut pada awal, sebelum kita menilai 2 Kor. 5 ayat demi ayat. Saya akan menerangkan posisi Kuyper yang begitu berfokus kepada jabatan, yang dicoraki sebagai pelayanan pendamaian. Untuk itu saya kemukakan bahwa ia mengembangkan istilah diakoniologi untuk menjuduli matakuliah pastoral, atau dengan kata lain teologia praktis. Diakoniologi adalah istilah yang lebih tepat, kata Kuyper,dan begitu juga ujar mahaguru saya satu abad kemudian, yaitu dr C.Trimp.

Diakoniologi, berarti ilmu tentang pelayanan dalam gereja. Dan dari surat-surat Paulus jelas bahwa pelayanan atau diakonia itu adalah pemberian Kristus kepada gereja-Nya. Adalah pelayanan pengasihan, tetapi yang dimaksud dalam nas kita adalah pelayanan Firman, dan kalau kita memperhatikan isi Firman yang disogohkan, maka itulah pendamaian dengan Allah. Melalui Kristus. Kristus mengangkat orang-orang yang berjabatan, untuk memberikan damai-Nya kepada manusia. Sungguh sangat mulia tugas itu. Dan karena itu sangat mulia tugas STT SETIA yang selama 27 tahun untuk membina bakal pemberita Firman, jadi bakal pemberi damai Kristus.

Kuyper mengembangkan ensiklopedi teologi, yaitu mata-mata kuliah, kurikulum. Dan ia menganggap sangat penting bahwa di samping bibliologi, yaitu tentang alkitab, dogmatologi, yaitu tentang ajaran, ekklesiologi, tentang gereja, terdapat diakoniologi, yaitu tentang pelayanan, atau tentang jabatan. Menurut dia jabatan ia datang dari Kristus, bukan dari jemaat, dan itulah sebabnya ia menolak istilah teologia praktika, atau teologia pastoral, yang menurut dia menekankan peran manusia, seakan-akan jabatan datang dari jemaat.

Apakah hal itu penting untuk sama-sama merenungkannya? Sangat penting. Sebuah sekolah teologia memperlengkapi mahasiswa untuk menjadi pelayan atas nama Kristus, untuk menjadi utusan dari Kristus. Dalam hal itu sebuah sekolah teologia sangat khusus, dibanding dengan universitas-universitas lainnya. Kita di sini tidak mempersiapkan pegawai dan karyawan dari lembaga, atau perusahaan atau negara, tetapi orang-orang kepercayaan Kristus.

Sudah saya terangkan bahwa 2 Kor. 5 sangat penting bagi SETIA. Tertinggal satu pokok lain. Mengapa Paulus menulis tentang pelayanan pendamaian? Oleh karena pernah ada pertengkaran di jemaat di Korintus, dan Paulus menjadi sasaran. Sekarang rasul berkata bahwa jemaat yang sudah diperdamaikan dengan Allah harus tetap memberi dirinya untuk didamaikan. Sebab salah satu unsur yang sangat mengancam pendamaian dengan Allah adalah pertengkaran antara saudara dan saudara. Paulus pernah mengalaminya di Korintus, tetapi syukurlah, itu dibereskan. Namun ia tetap memberi aba-aba untuk tidak memihak kepada manusia dan untuk saling menggigit.

Seharusnya orang-orang Kristen bersatu agar keselamatan tidak diambil daripada mereka. Barangkali penerapan ini untuk SETIA kini paling utama. Untuk apa menyerukan di dunia yang belum mengenal Tuhan: memberi dirimu didamaikan dengan Allah, kalau kita sendiri tidak dikenal sebagai pembawa damai karena bertengkar secara intern. Saya yakin, 2 Kor. 5 dengan khusus terarah kepada situasi di dalam jemaat, bukan kepada dunia luar.

Berilah dirimu diperdamaikan dengan Allah! Begitu pesan Paulus kepada saudara dan saya. Bukan saja kepada orang yang belum mengenal Kristus. Malahan, tekanan Paulus diberikan kepada anggota jemaat. Rupanya mereka belum didamaikan dengan Allah. Karena apa, karena mereka hidup dalam kekacauan, mencurigai Paulus, menghalangi pemberitaan Firman.

Ay. 11,12 Paulus bekerja dengan murni, dan niat-nya juga murni. Ia ingin menyelamatkan manusia,dan memuliakan Allah. Allah tahu, dan semoga manusia tahu juga. Dan Paulus berharap bahwa jemaat sadar tentang hal itu dan rela untuk membela Paulus terhadap orang yang mempersalahkannya .

Ay. 13-15 Dalam hal mana Paulus dijadikan bahan diskusi malahan batu sandungan? Mungkin ay 13 dapat menerangkan itu, hanya saja terjemahan bisa membingungkan. Terjemahan berbicara tentang menguasai diri, tapi lebih baik terjemahan seperti dalam NIV: out of mind. Bukan dalam arti seperti dalam Terjemahan Indonesia sehari-hari gila dan waras, tetapi dalam arti kesurupan atau tidak. Rupanya Paulus pernah berbicara dalam bahasa lidah, dan sekarang tidak lagi. Memang, ketika ia berbuat demikian, itu adalah demi hormat Allah, tetapi untuk jemaat lebih baik untuk tidak demikian. Sama seperti dikatakan Paulus dalam 1 Kor. 14:18,19. Aku mengucap syukur kepada Allah, bahwa aku berkata-kata dengan bahasa roh lebih dari pada kamu semua. 19 Tetapi dalam pertemuan Jemaat aku lebih suka mengucapkan lima kata yang dapat dimengerti untuk mengajar orang lain juga, dari pada beribu-ribu kata dengan bahasa roh.

Ay.16,17 Barangkali mereka yang berbahasa roh dianggap hebat oleh manusia. Dan karena itu Paulus berkata dalam ay 16 bahwa kita tidak harus menilai seorang menurut ukuran manusia. Seandainya kita menilai Yesus dengan ukuran manusia, pasti kita salah. Begitu juga dalam penilaian terhadap orang lain: kita harus mengukur secara rohani. Jangan menganggap Yesus sebagai manusia biasa, dan memang itulah kelemahan Schleiermacher. Paulus membuat itu sebelum ia bertobat, sesudah itu tidak lagi. Yang lama sudah berlalu, yang baru sudah datang.

Ay. 17 merupakan perkataan inti: siapa ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru, yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang. Cocok sekali, kalau kita memperhatikan nas itu pada HUT seseorang: apakah oknum ini berada dalam Kristus? Apakah ia sudah baru? Setiap tahun yang ditambahkan merupakan berkat Tuhan, tetapi dasar yang kuat telah diletakkan pada saat ia mulai mengikut Yesus. Apakah tidak mungkin juga kita menilai lembaga SETIA dengan ukuran ini: apakah ia sudah menjadi baru, secara rohani: apakah yang dicari adalah hormat Allah dan bukan pujian dari manusia? Apakah hasilnya, outputnya, adalah demi Kristus atau tidak?

Ay. 18,19 Dan semuanya ini dari Allah, yang dengan perantaraan Kristus telah mendamaikan kita dengan diriNya. Jurang antara Allah dan manusia terlalu lebar dan terlalu dalam. Hanya Allah dapat menjembataninya, dan Allah melakukan itu ketika Kristus datang.

Ay. 20,21 Kalau begitu, apa yang harus kita perbuat? Kalau sudah dikatakan bahwa Kristus telah mendamaikan kita dengan Allah, mengapa kemudian dikatakan: berilah dirimu didamaikan dengan Allah? Apakah di sini Paulus menghadapi orang lain? Bukan, ia tetap berbicara kepada orang yang sama.

Ataukah Paulus bermaksud bahwa sesudah kita berdamai dengan Allah, kita harus berdamai dengan sesama juga? Bukan itu saja ia menulis: berilah dirimu didamaikan dengan Allah.

Intinya: damai yang dimaksud adalah ganda: dengan Allah dan dengan manusia. Pernah jemaat itu bertengkar dengan Paulus, tetapi itu telah diselesaikan. Hanya saja: perdamaian seperti itu harus dimenangkan terus, sebab manusia selalu mencari masalah baru. Sudah berapa kali dalam masa 27 tahun ini SETIA dilanda percekcokan dan masalah? Dan damai dengan Allah harus diperjuangkan juga terus menerus. Setiap orang pada satu hari kelak akan menghadap Yesus Kristus , dan sebelumnya kita harus bertobat kepada-Nya, supaya kita nanti tidak terlambat.

Berilah diri mu didamaikan dengan Allah: orang jahat yang telah dibebaskan dari hukuman oleh karena Kristus menanggungnya, harus menyadari itu dan berterima kasih dan mengucapkan syukur dengan perkataan dan perbuatan. Kalau jemaat tetap dalam kekacauan, mereka sepertinya membuktikan bahwa mereka tidak merasa terhubung dengan Kristus dan tidak ingin dilepaskan oleh-Nya.

Menarik bahwa dikatakan: dalam nama Kristus kami meminta: berilah dirimu didamaikan dengan Allah. Bukan kami menyuruh, sekalipun seorang utusan dari Raja Agung dapat menyuruh. Tetapi katakerja ini menunjukkan komunikasi yang baik, seperti Paulus pernah menulis juga bahwa ia berupaya meyakinkan manusia: kita mencari jalan masuk ke lubuk hari saudara kita yang bermasalah. Kita tidak datang dengan perintah, tetapi dengan permintaan.

Berilah dirimu didaimaikan dengan Allah:

  1. Percayalah bahwa pendamaian telah diwujudnyatakan oleh Kristus
  2. Terimalah pendamaian itu
  3. Hiduplah sebagai manusia yang sudah didamaikan, dengan menjadi pembawa damai.

Yesus sebagai teladan bagi jemaat dan majelis, malahan lebih dari teladan

Geschreven door Jan Boersema op .

Kristus, teladan bagi jemaat dan majelis, malahan lebih daripada teladan.

Khotbah tentang 1 Petrus 2:25.
Bacaan: 1 Petrus 2:21-25, 1Petrus 5:1-7


Nama 'pastor' dikenal dari Gereja Katolik Roma. Gereja-gereja protestan biasa berkata-kata tentang penatua dan pendeta, dan majelis gereja. Kata 'majelis' kadang-kadang digunakan untuk menunjukkan seorang penatua. Bahkan dikatakan tentang mereka yang pernah penatua: dia mantan majelis. Rupanya julukan itu dianggap sangat berharga.
Memang harus ada majelis, dan tugas penatua sangat indah. Namun: kata 'pastor' adalah ungkapan yang paling cocok dalam gereja. Sebab berarti: gembala. Mendengar nama itu kita langsung teringat akan Gembala yang baik, yaitu Yesus Kristus.
Agak mengherankan bahwa Petrus dalam surat ini, mendadak, menyebut Tuhan Yesus sebagai gembala dan pemelihara jiwa. Mengapa demikian? Mengapa tidak Kurios, yaitu Tuhan, atau Sooter, yaitu Juruselamat, atau Kefale, yaitu kepala?
Dua alasan saya pahami. Satu yang terkait dengan kata-kata yang mendahului, dan satu dengan kata-kata yang menyusul.
1.Pokok surat ini adalah penderitaan. Hamba-hamba Kristen diperlakukan dengan keras, khususnya kalau tuan mereka bukan Kristen. Isteri-isteri suami-suami yang belum masuk Kristen dianiaya. Jemaat diolokkan masyarakat. Petrus menghibur jemaat itu dengan perkataan yang diambil dari nubuat Perjanjian Lama yang terkenal, yaitu Yes. 53 tentang Hamba Tuhan yang menderita. Fokusnya kepada: kita sebagai domba-domba yang sesat (ay. 6,7) dan kata-kata itu dikutip Petrus (ayat 25). Yesaya berkata juga: oleh bilur-bilurNya kita menjadi sembuh (ay.5). Anggota-anggota jemaat tujuan surat ini kena juga bilur-bilur dan pukulan-pukulan. Dari majikan, dari suami, dari tentara, dari masyarakat. Mereka boleh mengingat akan Tuhan Yesus dan penderitaan-Nya.
Hendaklah jemaat dalam penganiayaan tidak membalas kejahatan dengan kejahatan, tetapi memberi contoh yang baik, mengikuti teladan Kristus.
Jadi, oleh karena Yes. 53 telah disebut, tidak aneh kalau pada pembaca dibanding dengan domba-bomda yang sesat, dan tidak aneh juga kalau Tuhan Yesus disebut gembala dan pemelihara jiwa.
2. Petrus sudah berencana untuk menulis kepada para gembala jemaat (lih. fasal 5) sebab jemaat berada dalam krisis. Sangat penting bahwa pimpinan diperkuat, dan penggembalaan diperketat. Petrus akan mempertanggungjawabkan para penatua. Dalam melaksanakan tugas yang berat itu para penatua harus mengikuti teladan Yesus Kristus, yang adalah gembala agung. Dan dalam pemberitaan mereka harus mengabarkan Yesus sebagai Pemelihara jiwa yang satu-satunya.

Kristus, teladan bagi jemaat dan majelis, malahan lebih daripada teladan.
1. Domba-domba yang sesat
2. Gembala yang mencari
3. Pemeliharaan yang terbaik.

1.'Kamu telah kembali': rupanya jemaat terdiri dari orang yang sudah mengenal Allah tetapi sekarang melupakan-nya. Mereka kehilangan jalan, sesat. Apakah jemaat terdiri dari orang Yahudi yang masuk kristen? Mereka mengenal Allah dari dahulu, tetapi tidak betul-betul. Sebab, agama telah menjadi tradisi bagi mereka. Mereka tinggal di Asia kecil, di sana ditemukan banyak orang Yahudi yang di perantauan, jauh dari Yudea dan Yerusalem. Mereka bahkan mempunyai rumah-rumah ibadah, sinagoge, di mana juga orang-orang pribumi, yang kafir, kadang-kadang masuk sebagai pendengar.
Mereka tidak berbeda dengan orang-orang sekarang yang berkata bahwa mereka telah mengenal Allah, tetapi kehilangan jalan juga. Atau: Kristen di atas kertas, kristen KTP.
Para gembala bertugas dengan khusus dalam jemaat. Tugas mereka berbeda dengan tugas pekabar-pekabar Injil di dunia. Tetapi kedua tugas itu terkait juga. Sebab jemaat adalah jemaat demi dunia, sebagai terang dunia dan garam dunia. Tetapi di dalam jemaat kadang-kadang anggota-anggota melupakan dan meninggalkan Tuhan, dan apabila para gembala melihatnya hendaklah mereka menasihati dan memanggil kembali.
Tentang Tuhan Yesus sendiri dikatakan, Yoh 1, bahwa Ia datang kepada milik kepunyaan-nya, tetapi orang kepunyaan-Nya tidak menerima-Nya. Yesus datang kepada kawanan domba Allah, Bapak-nya. Allah, yang disebut juga gembala-ku: mazmur 23. Sekarang gereja adalah kawanan domba Tuhan Yesus. Dan para penatua bertanggungjawab atasnya, dalam nama Tuhan Yesus.

2. Tuhan Yesus dinamakan: Pemelihara. Hampir saya menyebut salah satu jabatan lain dari gereja Katolik Roma, yaitu uskup. Kata itu dialirkan dari kata pemelihara, yang berarti: yang memperhatikan, yang mencari, yang melawati. Untuk mengerti ini harus kita mengingat kepada sebuah nubuat lain dari Perjanjian Lama: Yeh. 34. Tuhan Allah menyuruh Yehezkiel untuk menyatakan kemarahan Tuhan atas pemimpin-pemimpin Israel, baik raja-raja maupun pemimpin rohani. Mereka adalah gembala yang melalaikan tugas sehingga domba-domba terlantar. Lalu Allah berfirman: Aku sendiri akan memperhatikan domba-domba-Ku. Dan terakhir Tuhan Allah melakukan itu dengan mengirim Anak-Nya Yesus Kristus, yang karena itu dapat disebut gembala dan pemelihara jiwa.
Hendaklah kita belajar dari tingkah-laku Tuhan Yesus, yang berkata kepada Zakheus: hari ini Aku harus menumpang dalam rumah-Mu. Dan belajar dari perumpamaan tentang orang Samaria yang murah hati, yang turun dari keledainya, menjengok kepada orang yang dirampas itu, membawanya ke penginapan dan memeriksa juga apakah orang itu ditolong dan sembuh.
Kerapatan majelis gereja penting, untuk sama-sama mewujudkan tanggungjawab, akan tetapi, apa yang dilakukan di luar kerapatan lebih penting lagi: mengunjungi, mendengar, menghibur, mendoakan, membantu secara praktis.

3.Pemeliharaan yang terbaik: domba-domba yang sakit kakinya digendong, yang lapar diberi makan, yang lemah dilindungi terhadap binatang buas. Kita juga seakan-akan digendong oleh Tuhan Yesus, sebab setiap saat Ia ada dan memperkuat dengan kuasa roh-Nya, setiap saat Ia melawan iblis dan melindungi kita dengan malaekat-malaekat-Nya.
Kata-kata dari fasal 2 muncul lagi dalam fasal 5: Pemelihara, dan: gembalakanlah jemaat yang ada padamu: seorang gembala adalah bagian dari jemaat sendiri, ia seringkali lahir di sana, dididik di sana, mengaku imannya, sekarang ia boleh memelihara yang lain, bukan karena mereka berada di bawah dia tetapi ia bersama dengan mereka dan sama-sama di bawah Kristus.
Pemeliharaan terbaik akan diberikan oleh seoranggembala yang menyadari bahwa ia sendiri juga anak domba Kristus.
Sangat ditekan dalam fasal 5 kerendahanhati. Dengan khusus disebut pemuda-pemudi, yang harus tunduk kepada orang tua. Mungkin mereka sengaja disebut karena pada waktu itu pemuda-pemudi sering membentuk persekutuan, untuk bergerak bersama. Dan itu sangat baik. Bisa terjadi di masyarakat, untuk membangun masyarakat, dan untunglah kalau terjadi juga di gereja. Asal saja persekutuan-persekutuan itu tidak menjadi tempat untuk terlalu kritis dan terlalu suka memprotes. Semangat dari pemuda-pemudi sangat diperlukan, antusiasmus mereka dan rencana mereka. Hendaklah semuanya itu dilaksanakan secara harmonis di tengah jemaat dengan mengakui juga majelis yang ada. Tetapi kerendahan hari itu tidak terbatas pada generasi muda: setiap anggota harus merendahkan diri terhadap yang lain. Dan khususnya, mereka bersama-sama di hadapan Tuhan. Dan di dalam itu boleh kita menyerahkan segala kekuatiraan kita kepada Dia, sebab Ia yang memelihara kita. Ia memelihara jiwa: apabila kita mati, kita terpelihara terus.
Ingat akan Tuhan Yesus sendiri yang pergi berdoa di atas gunung, untuk menyerahkan diri kepada Bapak. Bahkan dalam Getsameni, sebelum ia ditangkap, ia menyerahkan diri: kehendak-Mu jadilah.
Ia adalah teladan, tetapi juga lebih daripada teladan: Ia melakukan apa yang tidak mungkin kita lakukan: Ia membawa dosa semua orang yang percaya kepada salib, dan memikul beban-Nya. Ia menyelamatkan, sebagai Juruselamat yang satu-satuNya. Kita sembuh, hanya oleh darah Yesus.
Amin.

Siapa yang buta, siapa yang melihat

Geschreven door Jan Boersema op .

Siapa yang buta, siapa yang melihat

Khotbah tentang Yoh. 9, khususnya ay. 41.

Sudah biasa manusia suka menanyakan hal-hal yang sebenarnya adalah hak Tuhan Allah.
Mis.: Apakah orang bukan Kristen yang tadi meninggal ini berada di neraka? Atau: Apakah dosa orang yang murtad ini dapat diampuni? Atau: Mengapa orang itu jatuh sakit, karena dosanyakah? Mengapa saya sendiri mengalama bencara, ada kesalahan apa pada saya?
Bahwa ada neraka, itu diajar oleh Tuhan Yesus sendiri, dan juga bahwa keselamatan hanya ada pada Yesus. Tetapi, untuk menghakimi orang-orang tertentu itu bukan hak manusia.
Bahkan pernah ada orang yang bertanya: Mengapa Tuhan Allah menciptakan neraka? Bukankah semuanya itu sungguh amat baik (Kej. 1). Bagaimana dengan neraka? Kemudian ia ditegur oleh seorang bapak gereja yang berkata: Neraka adalah tempat simpan untuk orang seperti anda; tujuan orang yang berani menanyakan hal-hal yang tidak wajar.
Namun, bukan saja orang-orang angkara yang mempunyai pertanyaan. Orang-orang yang saleh juga, jika dipengaruhi oleh guru-guru atau ajaran-ajaran yang sesat. Seperti para murid, yang bertanya kepada Tuhan Yesus tentang seorang yang lahir buta, yang terkenal sebagai seorang pengemis di seluruh Yerusalem: "Rabi, siapakah yang berbuat dosa, orang ini sendiri atau orangtuanya, sehingga ia dilahirkan buta?". Sebab menurut ahli-ahli Taurat bahkan embrio, janin, dapat berbuat dosa. Ingat akan sejarah Esau dan Yakub, dua anak kembar itu, yang sepertinya telah berkelahi dalam rahim ibu (Kej. 25). Apalagi, menurut ahli-ahli Taurat, maka untuk setiap dosa ada hukuman yang setimpal dengan itu; atau sebaliknya, kalau ada malapetaka, pasti ada sebabnya. Dalam hal itu ahli-ahli Taurat mempunyai pandangan yang keliru seperti pandangan penganut-penganut agama tradisional, agama suku. Kesalahan itu dapat dibuktikan dari kitab Ayab, yang berceritera tentang Ayub yang sangat saleh tetapi menderita hebat, karena Tuhan mengujinya. Bukan, bahwa Tuhan menghukumnya.
Dalam hati saya timbul suatu pertanyaan lain: Apa gunanya orang buta itu disembuhkan oleh Tuhan Yesus? Sebab, sesudah ia dapat melihat, ia menemui masalah-masalah saja. Ia tidak melihat muka yang meriah, dari orang-orang yang bersama-sama dengan dia bersukahati karena kesembuhannya. Ia hanya melihat muka orang yang jengkel, yaitu ahli-ahli Taurat, atau orang yang takut, yaitu orangtuanya.
Mengapa demikian? Mengapa tidak seorang pun senang bersama-sama dengan orang yang sembuh itu? Karena Tuhan Allah mempunyai rencana khusus dengan orang itu, dan bilamana Tuhan mengerjakan sesuatu, si jahat selalu tampil untuk membikin kacau.
Dengan terang-terangan Tuhan Yesus berkata kepada murid-murid bahwa bukan orang itu melakukan dosa, dan bukan orangtuanya juga, tetapi bahwa pekerjaan Allah harus dinyatakan didalamnya. Dan pekerjaan Allah itu adalah bahwa Yesus Kristus menyembuhkan orang itu pada pertemuan pertama dengannya dan membuat ia percaya kepada-Nya pada pertemuan yang kedua.
Dalam segala sesuatu yang terjadi, Tuhan Allah mengerjakan kehendak-nya. Saudara boleh meyakini hal itu, sekalipun saudara mungkin tidak mengerti maksud Tuhan. Memang, Tuhan Yesus mengerti segala-galanya dan mengungkapkan itu, tetapi Tuhan Yesus adalah Anak Allah, yang tahu persis. Kita seringkali tidak mengerti jalan Tuhan.
Namun, satu hal dapat kita tahu pasti dan harus kita tahu pasti juga. Yakni tentang kebutaan dan kesembuhan sebagaimana dimaksudkan Tuhan Yesus dalam peristiwa ini. Siapakah yang buta, dan siapakah yang melihat?

Tema: Siapakah yang buta, dan siapakah yang melihat?
1. Seorang yang mengakui bahwa ia buta dan lemah, dosanya diampuni: dan ia melihat.
2. Seorang yang menganggap bahwa ia tahu dan melihat, dosanya tetap ada: dan ia buta.

Dengan kata-kata lain: siapa saja yang merasakan bahwa ia tercemar karena dosa, dan mencari Tuhan, maka dosa orang itu diampuni. Secara rohani ia melihat: ia mengerti siapakah Allah dan siapakah dia sendiri di dalam Kristus.
Tetapi, siapa saja yang merasakan bahwa ia sendiri pandai, tahu, dan melihat apa yang ada, maka dosa orang itu tidak diampuni sebab ia tidak mengakuinya. Secara rohani ia buta: ia tidak mengerti siapa Allah dan siapa dia sendiri, di luar Kristus.
1.Saya mau berbicara tentang pertemuan pertama Tuhan Yesus dan orang buta itu. Yesus meludah ke tanah, mengaduk ludah-Nya dengan tanah, dan mengoleskan pada mata orang buta tadi.
Seandainya Tuhan Yesus mau menonjolkan diri sebagai orang yang hebat, sebagai seorang yang memiliki khasiat, mungkin ia mengoles hanya air ludahnya pada mata itu, sebagai sesuatu yang dari diri-Nya sendiri. Saya berpikir, ia tidak akan mencampurkannya dengan tanah. Tetapi, sebenarnya, Tuhan Yesus sama sekali tidak membutuhkan mengoleskan orang dengan ludah-Nya. Cukup Ia berfirman: Sembuhlah engkau.
Namun, Tuhan Yesus mengoleskan mata itu dengan air ludah bercampur dengan tanah. Mengapa itu? Saya kira, untuk menguji orang-orang Farisi, apakah mereka baik atau tidak. Sebab ludah diadukkan dengan tanah mirip dengan salep, dan produksi pembuatan salep pada hari sabat tidak boleh. Dianggap sebagai suatu pekerjaan yang tidak boleh dilakukan. Seperti adonan untuk roti juga tidak boleh diadukkan. Kalau mengoles dengan ludah, seperti obat yang encer, bisa diperkenankan, tidak dianggap pekerjaan. Dan orang-orang Farisi tertangkap, sebab ternyata mereka tidak jujur, mereka terlalu suka menggunakan kesempatan untuk menuduh Tuhan Yesus, dengan tidak memperhatikan bahwa Ia melakukan suata pekerjaan yang baik dalam menyembuhkan orang.
Saya kira, ada satu alasan lagi: ludah bercampur tanah, berarti: mata itu dioleskan dengan kekotoran. Kita semua tahu bahwa tanah yang diambil dari jalan kotor sekali dan menyebabkan infeksi. Tetapi maksud Tuhan Yesus adalah menunjukkan bahwa setiap manusia kotor adanya dan harus dibersihkan, harus mandi. Tuhan Yesus menyatakan di sini bahwa masalah utama bukan kebutaan, tetapi dosa.
Pada pertemuan pertama Tuhan Yesus menyuruh orang itu untuk mandi dalam sebuah kolam yang terkenal dan yang airnya bersih. Ia sendiri harus mandi, mencuci mukanya. Seperti kita manusia harus bertobat. Bukan orang lain yang mempertobatkan, kita sendiri harus mencari Tuhan, memohon pengampunan, berjalan di dalam kebenaran. Kita harus ingin disucikan oleh darah Yesus Kristus yang ditumpahkan guna kita.
Dan sesudah mandi, orang itu dapat melihat. Betapa bergembira ia. Tetapi tidak ada yang ikut bersorak sorai. Semua takut akibatnya. Akan terjadi pertengkaran, mereka tahu, sebab pada hari Sabat tidak boleh bekerja. Yesus membuat pelanggaran. Mereka takut pengucilan kalau memihak pada Tuhan Yesus.
Saya yakin, Tuhan Yesus melakukan semuanya itu untuk menunjukkan siapa yang buta dan siapa dapat melihat. Orang yang dulu buta membuktikan bahwa ia melihat, secara rohani, pada pertemuan kedua dengan Tuhan Yesus. Ketika semua orang menjauhkan diri daripadanya, bahkan orangtuanya, hanya Tuhan Yesus yang datang lagi kepadanya. Kali ini ia melihat Tuhan Yesus, sebab ia tidak lagi buta, dan ia mengingat suara yang sama,dan ia melihat juga tangan Yesus yang dirasakannya pada matanya. Ia percaya dan menyembah kepada Tuhan Yesus.
Ia melihat, dan mengerti keadaan yang sesungguhnya, bahwa kita berlumuran dosa, dan perlu disucikan oleh darah Anak Manusia, Mesias yang dinantikan. Dialah Anak Allah yang telah datang untuk kita.

2.Tentang kebutaan orang-orang Farisi, sekalipun mereka melihat. Inilah menjadi peringatan dan nasihat bagi kita semua.
Perlu saya nyatakan juga bahwa tentu bukan semua orang Farisi adalah orang yang jahat dan munafik. Saya yakin bahwa terdapat banyak orang Farisi yang adalah orang saleh yang mau berkenan kepada Tuhan Allah sambil mengikuti hukum Taurat. Pun di antara mereka yang datang dan bertanya kepada Tuhan Yesus apakah mereka buta juga.
Semoga saudara juga demikian. Semoga saudara dikenal sebagai seorang yang jujur, yang baik hati, yang taat kepada Tuhan dan setia kepada Tuhan maupun sesama. Singkatnya: seorang yang benar.
Hanya saja, apabila kita bertekad begitu, selalu timbul bahaya bahwa iblis menyalahgunakan keberhasilan kita untuk membuat kita orang sombong, atau kalau tidak sombong seorang yang percaya diri dan berharap pada kedisiplinan dan kerajinan sendiri, dan tidak percaya pada Tuhan.
Kita harus berusaha hidup sesuai Firman Tuhan. Dan kalau sedikit berhasil, kita boleh bersenang juga dan berterima kasih kepada Tuhan yang telah menolong kita dalam hal itu. Namun, pada saat yang sama harus kita menyadari bahwa kita berlumuran dosa, kotor, seperti mata orang buta tadi.
Inti ajaran Tuhan Yesus adalah: bukan masalah buta yang harus diselesaikan, tetapi masalah dosa. Semoga saudara menyadari itu dan selalu mengingat bahwa saudara diperdamaikan dengan Allah, hanya oleh darah Yesus.
Amin

Firman Tuhan tidak dapat kalah

Geschreven door Jan Boersema op .

Khotbah tentang Kisah para rasul 13:46-49.

Kita mengikuti penginjil terbesar, rasul Paulus, dalam perjalanannya ke kota Antiokia. Pengalamannya di sana merupakan pelajaran bagi kita juga. Pada awal pemberitaan Paulus di Antiokia, banyak orang yang berminat untuk mendengar, tetapi langsung juga terasa pertentangan. Namun, kemudian terbentuk sebuah jemaat Kristen di Antiokhie, seperti dapat kita baca dalam fasal berikut. Sungguh satu mujizat Tuhan, satu penghiburan bagi setiap orang Kristen sampai sekarang. 


Firman Tuhan tidak dapat kalah.
1. Perlawanan oleh orang Israel (dan mungkin oleh kita juga)
2. Tujuan bagi bangsa Israel (dan tujuan kita)
3. Allah Israel (yang adalah Allah kita).