Firman Tuhan tidak dapat kalah

Geschreven door Jan Boersema op .

Khotbah tentang Kisah para rasul 13:46-49.

Kita mengikuti penginjil terbesar, rasul Paulus, dalam perjalanannya ke kota Antiokia. Pengalamannya di sana merupakan pelajaran bagi kita juga. Pada awal pemberitaan Paulus di Antiokia, banyak orang yang berminat untuk mendengar, tetapi langsung juga terasa pertentangan. Namun, kemudian terbentuk sebuah jemaat Kristen di Antiokhie, seperti dapat kita baca dalam fasal berikut. Sungguh satu mujizat Tuhan, satu penghiburan bagi setiap orang Kristen sampai sekarang. 


Firman Tuhan tidak dapat kalah.
1. Perlawanan oleh orang Israel (dan mungkin oleh kita juga)
2. Tujuan bagi bangsa Israel (dan tujuan kita)
3. Allah Israel (yang adalah Allah kita).


Dalam rumah ibadah orang Yahudi sering datang juga orang pendengar. Sama seperti  jemaat sekarang senang menerima pendengar-pendengar di tengah mereka, begitu orang Yahudi dahulu. Mereka yang datang dari luar dapat dibedakan dalam dua kelompok. Kelompok yang pertama terdiri dari orang bukan-Yahudi yang telah masuk jemaat orang Yahudi dengan resmi, melalui sunat. Mereka dinamakan orang proselit. Di samping itu terdapat kelompok yang kedua, yaitu pendengar yang  belum menjadi anggota. Mereka disebut ‘orang yang takut akan Allah’.
Saya berharap saudara langsung melihat perbedaan dengan jemaat Kristen sekarang: tentang mereka yang telah menjadi anggota, kita tidak akan mengatakan bahwa mereka tetap merupakan satu kelompok yang khusus, tidak sama dengan anggota yang sudah ada. Kita tidak membedakan antara anggota dan anggota, sebab semua anggota sama, dari asal manapun. Siapa yang telah menjadi anggota melalui baptisan dewasa dan pengakuan iman terhitung sebagai anggota sepenuhnya. Tetapi dalam rumah ibadah orang Yahudi dahulu berlaku bahwa mereka yang bukan Yahudi asli tetap dianggap anggota khusus.  Dalam hal itu jemaat orang Yahudi lemah dan tidak rukun, seperti akan kita lihat.
Paulus melihat bahwa justru mereka yang bukan Yahudi sangat senang dengan khotbahnya. Tetapi orang Yahudi asli pada akhirnya menentangya.
Paulus berkhotbah sebagai tamu. Seringkali tamu yang menghadiri kebaktian dimohon untuk mengarahkan pesan untuk membangun dan menghibur. Apalagi Paulus ini, seorang terpelajar yang dahulu di Yerusalem  mahasiswa dari guru Gamaliel yang terkenal itu.
Sesudah Paulus selesai berbicara, para hadiri sangat meriah dan bergembira, dan Paulus diminta untuk datang lagi berkhotbah, pada hari sabat berikutnya. Jumlah hadirin pada kesempatan berikut itu lebih banyak lagi, hampir seluruh kota berkumpul untuk untuk mendengar firman Allah. Tetapi orang Yahudi menjadi iri hati, dengan melihat orang sebanyak mereka tidak pernah menyambut dalam rumah ibadah itu. Mereka telah merenungkan arti dari khotbah Paulus minggu yang lalu itu, dan mengerti bahwa menurut Paulus tidak ada perbedaan antara orang Yahudi dan orang yang asal lain. Tidak diduga sebelumnya, bahwa seorang murid Gamaliel akan berpandangan itu. Mereka memprotes.

Dengan berani Paulus dan Barnabas berkata: Memang kepada kamulah firman Allah harus diberitakan lebih dahulu, tetapi kamu menolaknya  dan menganggap dirimu tidak layak untuk beroleh hidup yang kekal. Karena itu kami berpaling kepada bangsa-bangsa lain.
Kebijakan untuk memulai pemberitaan dalam rumah ibadah orang Yahudi dilakukan Paulus di setiap tempat. Mengapa demikian? Jawabnya dapat dibaca dalam salah satu surat Paulus (Roma 9): Mereka adalah orang Israel, mereka telah diangkat menjadi anak Allah, mereka telah menerima kemuliaan, dan perjanjian-perjanjian, dan hukum Taurat, mereka adalah keturunan bapa-bapa leluhur, yang menurunkan Mesias, dalam keadaan-Nya sebagai manusia.
Satu keuntungan adalah bahwa di mana-mana terdapat juga pendengar, jadi bangsa-bangsa lain dapat ditempuh melalui rumah ibadah Yahudi itu. Orang Yahudi tidak dilewati, hanya saja, bilamana orang Yahudi menolaknya maka Paulus berfokus pada bangsa-bangsa lain. Paulus datang ke rumah ibadah orang Yahudi dengan serius, bukan untuk lekas mengangkat kaki dan berangkat kepada orang lain. Ia memberitakan Injil dengan sungguh-sungguh, tetapi penolakan mereka begitu  hebat, sehingga Paulus pergi.
Firman Allah tidak dapat kalah. Maksud Tuhan selalu dicapai. Rumah Allah akan menjadi penuh. Tetapi apabila kita sendiri menolak Firman Allah maka kita juga akan kena sanksinya. Yang kalah bukan Firman tetapi kita sendiri. Kita dihukum sesuai Firman Allah itu.
Paulus dan Barnabas berkata bahwa orang Yahudi menghukum diri, bahkan membunuh diri, sebab menganggap dirinya tidak layak untuk beroleh hidup yang kekal. Padahal, Paulus justru datang untuk membawa mereka kepada hidup yang kekal .
Dalam surat yang disebut tadi, kepada orang Romawi, Paulus menulis bahwa Ia sangat bersedih hati, karena orang sebangsanya, yaitu orang Yahudi, yang menolak Kristus.
Apakah saudara juga  bersedih hati karena saudaramu yang tidak ikut Kristus?  Sebab perlawanan terhadap  Firman Allah terasa di mana-mana, dan bukan tidak mungkin di sini juga.  Di Sumba ada tempat pekabaran Injil, di tengah mereka yang sebelumnya tidak mendengar Firman. Di Sumba  ada juga jemaat yang sudah lama didirikan, dan yang anggota-nya Kristen turun-temurun. Jangan terjadi bahwa anak orang Kristen, atau cucunya, tidak lagi ikut ke gereja dan menolak Kristus. Apa bedanya dengan orang Yahudi yang, sekalipun mereka membaca kitab Suci, tidak mau terima Yesus Kristus sebagai Juruselamat yang telah dijanjikan Allah dalam kitab itu? Sangat berbahaya, kalau seorang Kristen, yang sebenarnya sudah dapat mengetahui siapakah Kristus, tidak menerima-Nya dengan penuh hati.


2. Injil yang diberitakan Paulus dan Barnabas bukan topik baru. Paulus juga tetap menghargai kedudukan bangsa Israel, jadi orang Yahudi tidak perlu tersinggung. Paulus mengutip Yes. 49: “Aku telah menentukan engkau menjadi terang bagi bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah, supaya engkau membawa keselamatan sampai keujung bumi”  (ay.47).
Rupanya Paulus berbicara tentang dirinya sendiri, dalam pelaksanaan tugasnya untuk mengabarkan Injil di mana-mana. Tetapi, yang dimaksudkan dalam Yes. 49 sebenarnya adalah Mesias, Hamba Tuhan. Tentu maksud Paulus amat baik, bukan untuk mengganti kedudukan Mesias. Paulus malahan datang untuk mengatakan bahwa sesuai Kitab Suci Mesias tidak diutus untuk orang Yahudi saja tetapi untuk semua bangsa. Jadi, Paulus tidak salah dengan memberitakan Injil kepada bangsa yang tidak mengenal Allah.
Kutipan dari Yesaya lebih indah lagi, kalau diperhatikan bahwa juga bangsa Israel sendiri kadang-kadang disebut hamba Tuhan (Yes.44:1). Isi nubuat Yesaya berlipat ganda artinya.
Sekaligus bangsa Israel adalah hamba Tuhan, yang harus menjadi berkat untuk semua bangsa, sekaligus Mesias sendiri adalah hamba Tuhan. Dan itu dapat dipahami bila dilihat bahwa Mesias lahir dari Israel. Sebagaimana pernah dikatakan Allah kepada Abraham, leluhur orang Israel, bahwa ia akan menjadi berkat untuk semua bangsa, yakni: dengan menjadi bapak leluhur dari Mesias.
Pantas sekali bahwa Paulus seolah-olah berbicara tentang dia sendiri sebagai hamba Tuhan yang harus menjadi terang bagi semua bangsa: sebab Paulus adalah orang Yahudi, dan dengan memberitakan Injil, Paulus mewujudkan tujuan bangsa Israel dan tujuan orang Yahudi, yaitu membawa Mesias dan membawa berita Injil  Mesias kepada seluruh bumi.
Tidak lain sekarang tujuan gereja Kristus dan tujuan orang Kristen. Untuk apa kita ada di bumi? Demi Tuhan, dan agar supaya nama Tuhan diberitahukan dan diperbesarkan oleh kata-kata kita dan perbuatan-perbuatan kita.


3. Tentang Allah Israel.
Firman Allah tidak dapat kalah, karena Allah sendiri mengutusnya dan mengerjakan bahwa Firman menembusi hati manusia.Tuhan telah mengatur bahwa Paulus dan Barnabas berjalan sampai  Antiokhia itu mengabarkan Injil kepada bangsa lain. Dan lebih terperinci: Tuhan Allah yang mengatur bahwa setiap orang yang dipilih-Nya akan menerima Firman Allah sehingga masuk kedalam hatinya dan ia akan percaya.
Semua orang yang ditentukan Allah untuk hidup yang kekal menjadi percaya (ay 49). Perkataan penulis itu kadang-kadang diartikan negatif: kalau saya tidak ditentukan Allah, percuma juga segala kegiatan saya untuk bergereja. Lebih baik saya hidup tanpa Tuhan. Tetapi maksud perkataan Paulus itu adalah positif: jangan putus asa. Firman Allah tidak dapat kalah. Allah melakukan apa yang dikehendakiNya. Tidak ada yang bisa menggagalkan rencana Tuhan.
Allah kita adalah Allah yang kita kenal dari Alkitab sebagai Allah Israel, Allah perjanjian. Allah itu setia pada setiap kata yang pernah diucapkan-Nya. Bilamana saudara memohon pertolongan Tuhan dalam doa, dan saudara menyebut janji Allah sendiri, mis. kata-kata Tuhan pada baptisan, jangan meragukan janji Allah itu. Pasti Allah akan membimbing saudara melalui semua pergumulan sampai saudara beroleh tujuanmu dalam hidup yang kekal. Sebab Tuhan Allahmu adalah Allah Israel, yang setia pada Firman-Nya.


Amin