Benar-benar merdeka

Geschreven door De Webteur Webdesign op .

Khotbah tentang Yoh. 8:36

Manusia suka merdeka. Dan manusia mempunyai harga diri. Seperti orang-orang Yahudi dahulu. Ketika Tuhan Yesus menerangkan kepada mereka bahwa mereka harus menjadi murid-Nya untuk mengetahui kebenaran, mereka tersinggung. Sebab, kata Yesus, bahwa kebenaran itulah akan memerdekakan mereka. Jawab mereka: Kami ini adalah keturunan Abraham dan tidak pernah menjadi hamba siapapun. Bagaimana harus menjadi merdeka? Kami sudah merdeka.


Sesudah itu Tuhan Yesus menjelaskan kepada mereka tentang perhambaan oleh dosa.

 

Benar-benar merdeka
1. Dimerdekakan oleh Siapa?
2. Dimerdekakan dari apa?
3. Dimerdekakan untuk apa?

1.Saya mengenal orang yang dulu adalah anggota gereja, tetapi sekarang tidak lagi. Sudah murtad. Mungkin saudara juga mengenal orang seperti itu. Dari mulut mereka saya pernah mendengar keluhan sbb: Dalam gereja kita ditipu. Sebab mula-mula gereja mengajarkan kepada anggotanya bahwa mereka terinfeksi oleh dosa. Kemudian gereja menunjuk jalan untuk diselamatkan daripada dosa itu. Dengan demikian gereja mengikat orang. Seandainya gereja tidak pernah berbicara tentang dosa dan tidak menuduh, makanya kita merasa merdeka dan tidak membutuhkan keselamatan yang ditawarkan oleh gereja. Tertipu kita. Dan karena itulah saya telah meninggalkan gereja, katanya.
Memang, berita tentang dosa hanya didengar di gereja, dan dalam hal itu gereja menyampaikan berita Alkitab. Di luar gereja Kristen ditemukan pula bermacam-macam keyakinan: tentang adanya dewa, bahkan yang dinamakan allah, tentang adanya hukum-hukum, tentang pelanggaran-pelanggaran juga. Tetapi semuanya itu dangkal, tidak menyentuh hati, tidak membuat kita mengasihi Allah, dan juga tidak membuat kita merasakan dikasihi Allah.
Hanya Alkitab saja, kitab Kejadian, memberitakan kebenaran tentang penciptaan. Pada mulanya semuanya itu sungguh amat baik, tetapi manusia, atas bisikan iblis, telah merusakkannya.
Orang-orang Yahudi tentu tahu tentang semuanya itu, dan juga mereka yang berdiskusi dengan Tuhan Yesus. Tetapi pengetahuan itulah bukan hikmat yang dirasakan; pengetahuan itu merupakan teori belaka, sebab ketika Tuhan Yesus menunjukkan dosa mereka sendiri, maka mereka marah .
Memang, mereka tahu bahwa manusia harus melawan dosa. Tetapi mereka tidak menerima bahwa mereka sendiri tidak bisa menang. Bangsa-bangsa lain selalu dikalahkan dosa, tetapi bangsa Yahudi tidak demikian, sebab bangsa itu memiliki hukum Taurat. Mereka tidak perlu dimerdekakan, pikir mereka sendiri. Tetapi Tuhan Yesus berkata: "Apabila Anak itu memerdekakan kamu, kamupun benar-benar merdeka". Akan tetapi: Anak itu, siapakah Dia?

Jangan lekas-lekas menjawab: Itulah Yesus, Anak Allah. Sekalipun jawaban itu benar sekali. Tetapi Tuhan Yesus menerangkan dahulu bahwa Dialah Anak Abraham, sama seperti semua orang Yahudi. Dan Dialah bukan salah seorang anak Abraham, melainkan anak Abraham itu. Bukan juga seorang hamba, tetapi anak itu.
Saya harap saudara-saudari mengenal sejarah Ishak dan Ismael, dan tahu tentang kebimbangan Abraham. Abraham selalu percaya kepada Tuhan, tetapi akhirnya dia juga yang putus asa dan meragukan perjanjian Allah. Ia menyetujui saran Sara, isterinya, untuk mengambil hambanya Hagar menjadi gundiknya, supaya jika ada anak, anak itu akan terhitung sebagai anak Sara. Begitulah Ismael lahir, tetapi Allah berkata: "Bukan dialah yang akan mewarisi, melainkan seorang anak Sara sendiri, sekalipun kamu berdua sudah tua".
Ketika Ismael lahir, orang tuanya, termasuk Sara, memuji diri dan berpikir: untunglah kami ini bijaksana. Jika tidak, punah keluarga kami. Tetapi ketika Ishak lahir, mereka memuji Tuhan dan menyadari: bagi Tuhan tidak ada yang mustahil.
Perkataan Tuhan Yesus mengingatkan peristiwa itu. Dan Tuhan berkata pula: Seorang hamba tidak tetap tinggal dalam rumah, tetapi seorang anak tetap tinggal dalam rumah. Ismael diusir, Ishak tinggal, untuk mewarisi kemudian.
Hendaklah keturunan Yahudi pada kemudian hari menjaga diri agar tidak diperlakukan seperti Ismael, dan disuruh untuk pergi.
Paulus pernah menulis dalam Gal. 4 bahwa kota Yerusalam pada waktu itu rupanya tergolong pada Hagar, yang melahirkan seorang hamba. Sebab semua orang di situ diperhambakan oleh pandangan ahli Taurat tentang hukum sebagai jalan keselamatan.
Tetapi Yerusalem sorgawi merdekalah, kata Paulus, dan kita lahir dari sana.

Abraham perlu belajar bahwa seorang yang percaya diri tidak akan dikaruniai anak. Dan Kristus melanjutkan pengajaran itu, bahwa seorang yang percaya diri tidak akan terhisab pada Anak itu, yang memerdekakan. Sebab Anak Abraham inilah juga Anak Allah, yang datang dari surga: "Sekiranya kamu mengenal Aku, kamu mengenal juga BapaKu". Dan kemudian, pada sore hari, Yesus berkata: "Sebelum Abraham jadi, Aku telah ada".
Siapa Dia yang memerdekakan? Anak Abraham itu: Yesus Kristus, sungguh-sungguh manusia, dan lahir karena mujizat yang lebih besar lagi daripada kelahiran Ishak: Dialah Anak Allah yang diutus oleh Bapanya.

2. Dimerdekakan dari apa?
Dari dosa, karena Kristus telah menanggung hukuman untuk semua orang yang mencari-Nya. Kami mengetahui itu dari Injil, khususnya dari fasal-fasal terakhir.
Tetapi nas kita sama sekali tidak membicarakan penderitaan dan kematian Kristus. Di mana kita mendengar tentang pembebasan dari dosa? Dalam perkataan bahwa Anak, lain daripada hamba, tetap tinggal di rumah. Rumah yang dimaksudkan adalah rumah keluarga Abraham, dalam pengertian yang sangat luas, yaitu gereja yang kekal. Seorang anak berhak untuk memberikan kemerdekakan kepada hamba-hambanya dan mengangkat mereka menjadi anak.
Siapa saja yang percaya kepada Kristus adalah anak Abraham, dan akan mewarisi (Gal. 3:29).
Tetapi orang-orang Yahudi yang tidak mengikuti Kristus adalah anak-anak iblis, bukan anak Abraham dan bukan juga anak Allah.
Iblis selalu mengusahakan merebut kembali anak-anak Tuhan. Bujukannya ialah: "Tuhan mau mengikat kamu. Orang-orang Kristen tidak pernah bebas. Mereka diharuskan untuk meninggalkan begitu banyak hal yang menyenangkan: pesta tidak boleh, main judi tidak, minum tidak, poligami tidak: Hukum Allah terlalu keras".
Terdapat gereja-gereja yang mengabarkan bahwa dahulu pada zaman Perjanjian Lama hukum Taurat yang berkuasa, sedangkan sekarang kita bebas, dan dipimpin oleh Roh. Tetapi pembedaan itu tidak benar: Roh Kudus memimpin kita dengan menggunakan hukum Taurat. Apabila Firman Tuhan mengatakan bahwa kita merdeka dari hukum, maksudnya ialah bahwa kita bebas dari hukuman dan kutuk, sebab Kristus telah menanggungnya.
Pembicaraan Tuhan Yesus yang panjang itu berlangsung sesudah mereka telah membawa kepada Tuhan Yesus seorang perempuan yang kedapatan berbuat zinah. "Barangsiapa di antara kamu yang tidak berdosa, hendaklah ia yang pertama melemparkan batu kepada perempuan itu".
Dan mereka semua pergi, dengan diam-diam. "Tidak ada seorang yang menghukum engkau? Jawabnya: Tidak. "Akupun tidak menghukum engkau. Pergilah dan jangan berbuat dosa lagi mulai dari sekarang". Seorangpun tidak berani bertanggungjawab melemparkan batu. Pertanyaan Tuhan membuat mereka menyadari akan dosa sendiri. Ketika mereka menangkap perempuan itu dan menyeretnya pikiran dan perasaan mereka pun tidak murni.
Kita baru bebas dari dosa, bila dosa itu diakui di hadapan Allah dan bila diyakini bahwa Yesus telah membayar utangnya. Kita benar-benar merdeka, bila dirasakan bahwa kita telah diterima Allah menjadi anakNya, jika kita berdoa dengan sungguh-sungguh dan memikirkan Tuhan dan mengasihiNya.

3.Merdeka, untuk apa?
Kita benar-benar merdeka, tetapi hukum tetap berlaku. Merdeka lain daripada sembrono.
Kita bebas seperti burung-burung di udara, yang beterbangan ke mana-mana. Betulkah itu? Tidak juga: masing-masing jenis burung ada lingkungannya sendiri, tempat ia menemukan makanan yang dicarinya. Ada burung-burung yang makan biji-biji pohon di hutan, ada yang menangkap ikan di laut. Masing-masing sesuai jenisnya, sesuai hukum alam yang ditentukan Allah.
Lebih jelas hidupnya ikan: lingkungannya adalah air. Di darat ikan akan mati. Begitulah hukum yang ditentukan Allah baginya.
Dan bagi manusia juga Allah menentukan hukum yang cocok baginya, sudah sejak taman Firdaus.
Merdeka, untuk apa? Untuk mengasihi Allah dan sesamanya. Saudara diciptakan Tuhan untuk hidup di hadapan-Nya. Saudara berharga dalam mata Tuhan, terbukti ketika Allah mengutus Anak-Nya untuk menjadi Juruselamat.
Perhatikan karunia-karunia yang diberikan Tuhan kepadamu. Dan gunakan itu.
Seorang yang cakap untuk bertukang, hendaklah ia bertukang.
Seorang yang cocok untuk belajar, hendaklah ia belajar.
Seorang yang cakap untuk menggembalakan dan memimpin jemaat, hendaklah ia menjadi gembala.
Seorang yang cocok untuk pelayanan kasih, hendaklah ia menjadi diaken.
Seorang yang cocok untuk melayani Firman, hendaklah ia menjadi guru injil atau pendeta.
Masing-masing sesuai karunia yang diberikan Tuhan, laki-laki dan perempuan.
Kamu merdeka, tidak perlu dipaksa orang untuk tugas A atau tugas B, perhatikan karunia yang ada padamu, perhatikan di mana ada kebutuhan, bertukar pikiran dengan keluarga dan teman, dan pilih sendiri. Asal mengikuti Tuhan. Bersama dengan Tuhan kamu merdeka.
Kamu merdeka: Tuhan tidak menuntut kamu harus lulus di ujian rohani dulu, baru diterima Tuhan. Itulah semacam perhambaan. Tuhan telah menerima saudara, sebab Tuhan Yesus telah mati untukmu. Sekarang kamu merdeka, untuk mengikut Tuhan pada jalan yang ditunjuk Tuhan.
Amen