Siapa yang buta, siapa yang melihat

Geschreven door Jan Boersema op .

Siapa yang buta, siapa yang melihat

Khotbah tentang Yoh. 9, khususnya ay. 41.

Sudah biasa manusia suka menanyakan hal-hal yang sebenarnya adalah hak Tuhan Allah.
Mis.: Apakah orang bukan Kristen yang tadi meninggal ini berada di neraka? Atau: Apakah dosa orang yang murtad ini dapat diampuni? Atau: Mengapa orang itu jatuh sakit, karena dosanyakah? Mengapa saya sendiri mengalama bencara, ada kesalahan apa pada saya?
Bahwa ada neraka, itu diajar oleh Tuhan Yesus sendiri, dan juga bahwa keselamatan hanya ada pada Yesus. Tetapi, untuk menghakimi orang-orang tertentu itu bukan hak manusia.
Bahkan pernah ada orang yang bertanya: Mengapa Tuhan Allah menciptakan neraka? Bukankah semuanya itu sungguh amat baik (Kej. 1). Bagaimana dengan neraka? Kemudian ia ditegur oleh seorang bapak gereja yang berkata: Neraka adalah tempat simpan untuk orang seperti anda; tujuan orang yang berani menanyakan hal-hal yang tidak wajar.
Namun, bukan saja orang-orang angkara yang mempunyai pertanyaan. Orang-orang yang saleh juga, jika dipengaruhi oleh guru-guru atau ajaran-ajaran yang sesat. Seperti para murid, yang bertanya kepada Tuhan Yesus tentang seorang yang lahir buta, yang terkenal sebagai seorang pengemis di seluruh Yerusalem: "Rabi, siapakah yang berbuat dosa, orang ini sendiri atau orangtuanya, sehingga ia dilahirkan buta?". Sebab menurut ahli-ahli Taurat bahkan embrio, janin, dapat berbuat dosa. Ingat akan sejarah Esau dan Yakub, dua anak kembar itu, yang sepertinya telah berkelahi dalam rahim ibu (Kej. 25). Apalagi, menurut ahli-ahli Taurat, maka untuk setiap dosa ada hukuman yang setimpal dengan itu; atau sebaliknya, kalau ada malapetaka, pasti ada sebabnya. Dalam hal itu ahli-ahli Taurat mempunyai pandangan yang keliru seperti pandangan penganut-penganut agama tradisional, agama suku. Kesalahan itu dapat dibuktikan dari kitab Ayab, yang berceritera tentang Ayub yang sangat saleh tetapi menderita hebat, karena Tuhan mengujinya. Bukan, bahwa Tuhan menghukumnya.
Dalam hati saya timbul suatu pertanyaan lain: Apa gunanya orang buta itu disembuhkan oleh Tuhan Yesus? Sebab, sesudah ia dapat melihat, ia menemui masalah-masalah saja. Ia tidak melihat muka yang meriah, dari orang-orang yang bersama-sama dengan dia bersukahati karena kesembuhannya. Ia hanya melihat muka orang yang jengkel, yaitu ahli-ahli Taurat, atau orang yang takut, yaitu orangtuanya.
Mengapa demikian? Mengapa tidak seorang pun senang bersama-sama dengan orang yang sembuh itu? Karena Tuhan Allah mempunyai rencana khusus dengan orang itu, dan bilamana Tuhan mengerjakan sesuatu, si jahat selalu tampil untuk membikin kacau.
Dengan terang-terangan Tuhan Yesus berkata kepada murid-murid bahwa bukan orang itu melakukan dosa, dan bukan orangtuanya juga, tetapi bahwa pekerjaan Allah harus dinyatakan didalamnya. Dan pekerjaan Allah itu adalah bahwa Yesus Kristus menyembuhkan orang itu pada pertemuan pertama dengannya dan membuat ia percaya kepada-Nya pada pertemuan yang kedua.
Dalam segala sesuatu yang terjadi, Tuhan Allah mengerjakan kehendak-nya. Saudara boleh meyakini hal itu, sekalipun saudara mungkin tidak mengerti maksud Tuhan. Memang, Tuhan Yesus mengerti segala-galanya dan mengungkapkan itu, tetapi Tuhan Yesus adalah Anak Allah, yang tahu persis. Kita seringkali tidak mengerti jalan Tuhan.
Namun, satu hal dapat kita tahu pasti dan harus kita tahu pasti juga. Yakni tentang kebutaan dan kesembuhan sebagaimana dimaksudkan Tuhan Yesus dalam peristiwa ini. Siapakah yang buta, dan siapakah yang melihat?

Tema: Siapakah yang buta, dan siapakah yang melihat?
1. Seorang yang mengakui bahwa ia buta dan lemah, dosanya diampuni: dan ia melihat.
2. Seorang yang menganggap bahwa ia tahu dan melihat, dosanya tetap ada: dan ia buta.

Dengan kata-kata lain: siapa saja yang merasakan bahwa ia tercemar karena dosa, dan mencari Tuhan, maka dosa orang itu diampuni. Secara rohani ia melihat: ia mengerti siapakah Allah dan siapakah dia sendiri di dalam Kristus.
Tetapi, siapa saja yang merasakan bahwa ia sendiri pandai, tahu, dan melihat apa yang ada, maka dosa orang itu tidak diampuni sebab ia tidak mengakuinya. Secara rohani ia buta: ia tidak mengerti siapa Allah dan siapa dia sendiri, di luar Kristus.
1.Saya mau berbicara tentang pertemuan pertama Tuhan Yesus dan orang buta itu. Yesus meludah ke tanah, mengaduk ludah-Nya dengan tanah, dan mengoleskan pada mata orang buta tadi.
Seandainya Tuhan Yesus mau menonjolkan diri sebagai orang yang hebat, sebagai seorang yang memiliki khasiat, mungkin ia mengoles hanya air ludahnya pada mata itu, sebagai sesuatu yang dari diri-Nya sendiri. Saya berpikir, ia tidak akan mencampurkannya dengan tanah. Tetapi, sebenarnya, Tuhan Yesus sama sekali tidak membutuhkan mengoleskan orang dengan ludah-Nya. Cukup Ia berfirman: Sembuhlah engkau.
Namun, Tuhan Yesus mengoleskan mata itu dengan air ludah bercampur dengan tanah. Mengapa itu? Saya kira, untuk menguji orang-orang Farisi, apakah mereka baik atau tidak. Sebab ludah diadukkan dengan tanah mirip dengan salep, dan produksi pembuatan salep pada hari sabat tidak boleh. Dianggap sebagai suatu pekerjaan yang tidak boleh dilakukan. Seperti adonan untuk roti juga tidak boleh diadukkan. Kalau mengoles dengan ludah, seperti obat yang encer, bisa diperkenankan, tidak dianggap pekerjaan. Dan orang-orang Farisi tertangkap, sebab ternyata mereka tidak jujur, mereka terlalu suka menggunakan kesempatan untuk menuduh Tuhan Yesus, dengan tidak memperhatikan bahwa Ia melakukan suata pekerjaan yang baik dalam menyembuhkan orang.
Saya kira, ada satu alasan lagi: ludah bercampur tanah, berarti: mata itu dioleskan dengan kekotoran. Kita semua tahu bahwa tanah yang diambil dari jalan kotor sekali dan menyebabkan infeksi. Tetapi maksud Tuhan Yesus adalah menunjukkan bahwa setiap manusia kotor adanya dan harus dibersihkan, harus mandi. Tuhan Yesus menyatakan di sini bahwa masalah utama bukan kebutaan, tetapi dosa.
Pada pertemuan pertama Tuhan Yesus menyuruh orang itu untuk mandi dalam sebuah kolam yang terkenal dan yang airnya bersih. Ia sendiri harus mandi, mencuci mukanya. Seperti kita manusia harus bertobat. Bukan orang lain yang mempertobatkan, kita sendiri harus mencari Tuhan, memohon pengampunan, berjalan di dalam kebenaran. Kita harus ingin disucikan oleh darah Yesus Kristus yang ditumpahkan guna kita.
Dan sesudah mandi, orang itu dapat melihat. Betapa bergembira ia. Tetapi tidak ada yang ikut bersorak sorai. Semua takut akibatnya. Akan terjadi pertengkaran, mereka tahu, sebab pada hari Sabat tidak boleh bekerja. Yesus membuat pelanggaran. Mereka takut pengucilan kalau memihak pada Tuhan Yesus.
Saya yakin, Tuhan Yesus melakukan semuanya itu untuk menunjukkan siapa yang buta dan siapa dapat melihat. Orang yang dulu buta membuktikan bahwa ia melihat, secara rohani, pada pertemuan kedua dengan Tuhan Yesus. Ketika semua orang menjauhkan diri daripadanya, bahkan orangtuanya, hanya Tuhan Yesus yang datang lagi kepadanya. Kali ini ia melihat Tuhan Yesus, sebab ia tidak lagi buta, dan ia mengingat suara yang sama,dan ia melihat juga tangan Yesus yang dirasakannya pada matanya. Ia percaya dan menyembah kepada Tuhan Yesus.
Ia melihat, dan mengerti keadaan yang sesungguhnya, bahwa kita berlumuran dosa, dan perlu disucikan oleh darah Anak Manusia, Mesias yang dinantikan. Dialah Anak Allah yang telah datang untuk kita.

2.Tentang kebutaan orang-orang Farisi, sekalipun mereka melihat. Inilah menjadi peringatan dan nasihat bagi kita semua.
Perlu saya nyatakan juga bahwa tentu bukan semua orang Farisi adalah orang yang jahat dan munafik. Saya yakin bahwa terdapat banyak orang Farisi yang adalah orang saleh yang mau berkenan kepada Tuhan Allah sambil mengikuti hukum Taurat. Pun di antara mereka yang datang dan bertanya kepada Tuhan Yesus apakah mereka buta juga.
Semoga saudara juga demikian. Semoga saudara dikenal sebagai seorang yang jujur, yang baik hati, yang taat kepada Tuhan dan setia kepada Tuhan maupun sesama. Singkatnya: seorang yang benar.
Hanya saja, apabila kita bertekad begitu, selalu timbul bahaya bahwa iblis menyalahgunakan keberhasilan kita untuk membuat kita orang sombong, atau kalau tidak sombong seorang yang percaya diri dan berharap pada kedisiplinan dan kerajinan sendiri, dan tidak percaya pada Tuhan.
Kita harus berusaha hidup sesuai Firman Tuhan. Dan kalau sedikit berhasil, kita boleh bersenang juga dan berterima kasih kepada Tuhan yang telah menolong kita dalam hal itu. Namun, pada saat yang sama harus kita menyadari bahwa kita berlumuran dosa, kotor, seperti mata orang buta tadi.
Inti ajaran Tuhan Yesus adalah: bukan masalah buta yang harus diselesaikan, tetapi masalah dosa. Semoga saudara menyadari itu dan selalu mengingat bahwa saudara diperdamaikan dengan Allah, hanya oleh darah Yesus.
Amin