Berilah dirimu didamaikan dengan Allah

Geschreven door Jan Boersema op .

Khotbah pada 11 mei 2014, HUT STT SETIA yang ke -27

Bacaan Alkitab: 2 Kor.5: 11-21

Nas: 2 Kor. 5: 20b: Berilah dirimu didamaikan dengan Allah.

Nas ini sangat penting bagi STT SETIA, mengingat misinya, dan bagi mahasiswa-mahasiswa dan dosen-dosen masing-masing. Nas ini juga berperan dalam sejarah teologi. Beberapa teolog yang amat berpengaruh bersandar pada ucapan Paulus dalam fasal ini. Sebelum saya menyebut beberapa nama, saya mengingatkan akan studi saya sendiri dan matakuliah yang saya terima di Kampen.

Pada tahun 1969 saya masuk kuliah dan satu tahun kemudian, pada tahun 1970, dr C. Trimp dilantikan sebagai mahaguru di alma mater kami di Kampen, bagian diakoniologi. Istilah itu akan diterangkan sebentar. Pidato pelantikan berjudul “Legitimasi untuk pelayanan pendamaian”, berdasarkan 2 Kor. 5:18. Dalam ceramah itu ia mempertahankan keyakinan A. Kuyper dan melawan pandangan-pandangan baik dari F. Schleiermacher (yang disebut teolog yang paling besar dari abad yang XIX) maupun K. Barth (yang disebut teolog yang paling besar dari abad yang ke XX). Dalam hal apa A. Kuyper melawan F. Schleiermacher dan dalam hal apa C. Trimp melanjutkan pandangan itu dengan melawan K. Barth juga?

Terdahulu saya sebut tema sebuah khotbah Schleiermacher tentang 2 Kor. 5:17,18: “Bahwa kita tidak dapat belajar apa-apa dari murka Allah”. Menurut Schleiermacher membicarakan murka Allah berarti memiliki pandangan yang sangat terbatas terhadap Tuhan Allah. Pengertian murka itu datang dari orang-orang Yahudi. Paulus mengajar bahwa Allah tidak bermurka lagi dan bahwa manusia sudah didamaikan dengan Allah. Teologi Schleiermachter itu dapat dicoraki sebagai teologi pengalaman. Titik tolaknya bukan penyataan Allah yang dari atas, tetapi perasaan manusia yang dari bawah. Mengenai alma mater kamu, SETIA, yang merayakan HUT-nya hari ini, saya yakin bahwa teologi yang diajar di sini tidak didasarkan atas pengalaman-pengalaman dan perasaan-perasaan manusia tetapi atas Firman Tuhan yang diilhamkan Roh Kudus, seperti saya belajar di Kampen dulu.

Mengenai Karl Barth: 2 Kor. 5:19a merupakan tema dari seluruh karyanya Kirchliche Dogmatik: Sebab Allah mendamaikan dunia dengan diriNya oleh Kristus. Bagian b tidak dihiraukan, yaitu bahwa Allah telah mempercayakan berita pendamaian itu kepada para rasul. Karl Barth mendasarkan teologinya tidak atas perasaan manusia tetapi atas Firman Tuhan dari atas. Barth sangat menguatirkan bahwa Firman Tuhan akan dianggap manusiawi. Karena itu ia mengatakan tentang pemberitaan firman, atau khotbah, dua hal yang kelihatannya bertentangan. 1. Khotbah adalah Firman Tuhan yang dikatakan oleh Allah sendiri. 2. Khotbah adalah upaya gereja yang ditugaskan untuk menjadi pelayan bagi Firman, sehingga nas Alkitab diterangkan. Kedua segi ini saling memperlengkapi, dan kebenaran adalah di tengah dan tidak bisa dipahami oleh manusia. Teologi Bart dinamakan dialektis, dari dialog: selalu ada dua kutub, dua unsur yang berlawanan, yang sama-sama penting dan sama-sama membentuk kebenaran, tapi kebenaran itu tidak bisa ditanggapi.

Jadi, khotbah adalah pelayanan kepada Firman. Sekaligus Barth enggan untuk mengedepankan jabatan dalam gereja, sebab seorang yang berjabatan bisa menjadi sombong. Yang boleh disebut sebagai jabatan adalah tugas jemaat seluruuhnya. Dan karena itu ay 19 bagian b tidak dihiraukan, yaitu bahwa Allah mempercayakan berita pendamaian kepada rasul-rasul. Sedangkan bagian a salah ditanggapi juga, yaitu bahwa Allah mendamaikan dunia dengan diriNya oleh Kristus. Tafsiran Barth adalah: Allah telah berada di dalam Kristus, dan karena itu Allah mendamaikan dunia dengan diriNya.

Berarti: dengan penampakan diri Allah dalam Kristus manusia (siapapun juga) sudah didamaikan dengan Allah. Akhirnya dapat disimpulkan bahwa pendamaian itu adalah umum, untuk semua orang.

Saya yakin bahwa STT SETIA mempunyai pandangan yang berbeda dengan Barth terhadap Firman Tuhan dan terhadap khotbah. Yaitu, bahwa Firman Tuhan datang dari atas, karena pengilhaman oleh Roh, dan dipercayakan kepada gereja untuk dikabarkan. Dalam gereja jabatan adalah penting, tugas pekabaran Injil penting. Sekalipun Firman Tuhan datang Roh Kudus, dalam segi lain Firman Tuhan boleh dianggap seperti tulisan-tulisan biasa, dengan kosakata biasa dan tatabahasa biasa. Bahasa Alkitab tidak sakral dan isinya dapat diterangkan dengan kemampuan membaca/ menganalisa/ menerangkan sebagaimana ada pada manusia. Dan menyangkut pendamaian: Allah mendamaikan dunia dengan diriNya dan pelayanan pendamaian itu dipercayakan kepada gereja, sebab dari Firman Tuhan kita tahu tentang pendamaian oleh Kristus itu. Yang menerima Firman itu akan diselamatkan, yang menolaknya akan binasa. Tidak ada pendamaian umum.

Kembali kepada teologi yang sudah saya sebut pada awal, sebelum kita menilai 2 Kor. 5 ayat demi ayat. Saya akan menerangkan posisi Kuyper yang begitu berfokus kepada jabatan, yang dicoraki sebagai pelayanan pendamaian. Untuk itu saya kemukakan bahwa ia mengembangkan istilah diakoniologi untuk menjuduli matakuliah pastoral, atau dengan kata lain teologia praktis. Diakoniologi adalah istilah yang lebih tepat, kata Kuyper,dan begitu juga ujar mahaguru saya satu abad kemudian, yaitu dr C.Trimp.

Diakoniologi, berarti ilmu tentang pelayanan dalam gereja. Dan dari surat-surat Paulus jelas bahwa pelayanan atau diakonia itu adalah pemberian Kristus kepada gereja-Nya. Adalah pelayanan pengasihan, tetapi yang dimaksud dalam nas kita adalah pelayanan Firman, dan kalau kita memperhatikan isi Firman yang disogohkan, maka itulah pendamaian dengan Allah. Melalui Kristus. Kristus mengangkat orang-orang yang berjabatan, untuk memberikan damai-Nya kepada manusia. Sungguh sangat mulia tugas itu. Dan karena itu sangat mulia tugas STT SETIA yang selama 27 tahun untuk membina bakal pemberita Firman, jadi bakal pemberi damai Kristus.

Kuyper mengembangkan ensiklopedi teologi, yaitu mata-mata kuliah, kurikulum. Dan ia menganggap sangat penting bahwa di samping bibliologi, yaitu tentang alkitab, dogmatologi, yaitu tentang ajaran, ekklesiologi, tentang gereja, terdapat diakoniologi, yaitu tentang pelayanan, atau tentang jabatan. Menurut dia jabatan ia datang dari Kristus, bukan dari jemaat, dan itulah sebabnya ia menolak istilah teologia praktika, atau teologia pastoral, yang menurut dia menekankan peran manusia, seakan-akan jabatan datang dari jemaat.

Apakah hal itu penting untuk sama-sama merenungkannya? Sangat penting. Sebuah sekolah teologia memperlengkapi mahasiswa untuk menjadi pelayan atas nama Kristus, untuk menjadi utusan dari Kristus. Dalam hal itu sebuah sekolah teologia sangat khusus, dibanding dengan universitas-universitas lainnya. Kita di sini tidak mempersiapkan pegawai dan karyawan dari lembaga, atau perusahaan atau negara, tetapi orang-orang kepercayaan Kristus.

Sudah saya terangkan bahwa 2 Kor. 5 sangat penting bagi SETIA. Tertinggal satu pokok lain. Mengapa Paulus menulis tentang pelayanan pendamaian? Oleh karena pernah ada pertengkaran di jemaat di Korintus, dan Paulus menjadi sasaran. Sekarang rasul berkata bahwa jemaat yang sudah diperdamaikan dengan Allah harus tetap memberi dirinya untuk didamaikan. Sebab salah satu unsur yang sangat mengancam pendamaian dengan Allah adalah pertengkaran antara saudara dan saudara. Paulus pernah mengalaminya di Korintus, tetapi syukurlah, itu dibereskan. Namun ia tetap memberi aba-aba untuk tidak memihak kepada manusia dan untuk saling menggigit.

Seharusnya orang-orang Kristen bersatu agar keselamatan tidak diambil daripada mereka. Barangkali penerapan ini untuk SETIA kini paling utama. Untuk apa menyerukan di dunia yang belum mengenal Tuhan: memberi dirimu didamaikan dengan Allah, kalau kita sendiri tidak dikenal sebagai pembawa damai karena bertengkar secara intern. Saya yakin, 2 Kor. 5 dengan khusus terarah kepada situasi di dalam jemaat, bukan kepada dunia luar.

Berilah dirimu diperdamaikan dengan Allah! Begitu pesan Paulus kepada saudara dan saya. Bukan saja kepada orang yang belum mengenal Kristus. Malahan, tekanan Paulus diberikan kepada anggota jemaat. Rupanya mereka belum didamaikan dengan Allah. Karena apa, karena mereka hidup dalam kekacauan, mencurigai Paulus, menghalangi pemberitaan Firman.

Ay. 11,12 Paulus bekerja dengan murni, dan niat-nya juga murni. Ia ingin menyelamatkan manusia,dan memuliakan Allah. Allah tahu, dan semoga manusia tahu juga. Dan Paulus berharap bahwa jemaat sadar tentang hal itu dan rela untuk membela Paulus terhadap orang yang mempersalahkannya .

Ay. 13-15 Dalam hal mana Paulus dijadikan bahan diskusi malahan batu sandungan? Mungkin ay 13 dapat menerangkan itu, hanya saja terjemahan bisa membingungkan. Terjemahan berbicara tentang menguasai diri, tapi lebih baik terjemahan seperti dalam NIV: out of mind. Bukan dalam arti seperti dalam Terjemahan Indonesia sehari-hari gila dan waras, tetapi dalam arti kesurupan atau tidak. Rupanya Paulus pernah berbicara dalam bahasa lidah, dan sekarang tidak lagi. Memang, ketika ia berbuat demikian, itu adalah demi hormat Allah, tetapi untuk jemaat lebih baik untuk tidak demikian. Sama seperti dikatakan Paulus dalam 1 Kor. 14:18,19. Aku mengucap syukur kepada Allah, bahwa aku berkata-kata dengan bahasa roh lebih dari pada kamu semua. 19 Tetapi dalam pertemuan Jemaat aku lebih suka mengucapkan lima kata yang dapat dimengerti untuk mengajar orang lain juga, dari pada beribu-ribu kata dengan bahasa roh.

Ay.16,17 Barangkali mereka yang berbahasa roh dianggap hebat oleh manusia. Dan karena itu Paulus berkata dalam ay 16 bahwa kita tidak harus menilai seorang menurut ukuran manusia. Seandainya kita menilai Yesus dengan ukuran manusia, pasti kita salah. Begitu juga dalam penilaian terhadap orang lain: kita harus mengukur secara rohani. Jangan menganggap Yesus sebagai manusia biasa, dan memang itulah kelemahan Schleiermacher. Paulus membuat itu sebelum ia bertobat, sesudah itu tidak lagi. Yang lama sudah berlalu, yang baru sudah datang.

Ay. 17 merupakan perkataan inti: siapa ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru, yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang. Cocok sekali, kalau kita memperhatikan nas itu pada HUT seseorang: apakah oknum ini berada dalam Kristus? Apakah ia sudah baru? Setiap tahun yang ditambahkan merupakan berkat Tuhan, tetapi dasar yang kuat telah diletakkan pada saat ia mulai mengikut Yesus. Apakah tidak mungkin juga kita menilai lembaga SETIA dengan ukuran ini: apakah ia sudah menjadi baru, secara rohani: apakah yang dicari adalah hormat Allah dan bukan pujian dari manusia? Apakah hasilnya, outputnya, adalah demi Kristus atau tidak?

Ay. 18,19 Dan semuanya ini dari Allah, yang dengan perantaraan Kristus telah mendamaikan kita dengan diriNya. Jurang antara Allah dan manusia terlalu lebar dan terlalu dalam. Hanya Allah dapat menjembataninya, dan Allah melakukan itu ketika Kristus datang.

Ay. 20,21 Kalau begitu, apa yang harus kita perbuat? Kalau sudah dikatakan bahwa Kristus telah mendamaikan kita dengan Allah, mengapa kemudian dikatakan: berilah dirimu didamaikan dengan Allah? Apakah di sini Paulus menghadapi orang lain? Bukan, ia tetap berbicara kepada orang yang sama.

Ataukah Paulus bermaksud bahwa sesudah kita berdamai dengan Allah, kita harus berdamai dengan sesama juga? Bukan itu saja ia menulis: berilah dirimu didamaikan dengan Allah.

Intinya: damai yang dimaksud adalah ganda: dengan Allah dan dengan manusia. Pernah jemaat itu bertengkar dengan Paulus, tetapi itu telah diselesaikan. Hanya saja: perdamaian seperti itu harus dimenangkan terus, sebab manusia selalu mencari masalah baru. Sudah berapa kali dalam masa 27 tahun ini SETIA dilanda percekcokan dan masalah? Dan damai dengan Allah harus diperjuangkan juga terus menerus. Setiap orang pada satu hari kelak akan menghadap Yesus Kristus , dan sebelumnya kita harus bertobat kepada-Nya, supaya kita nanti tidak terlambat.

Berilah diri mu didamaikan dengan Allah: orang jahat yang telah dibebaskan dari hukuman oleh karena Kristus menanggungnya, harus menyadari itu dan berterima kasih dan mengucapkan syukur dengan perkataan dan perbuatan. Kalau jemaat tetap dalam kekacauan, mereka sepertinya membuktikan bahwa mereka tidak merasa terhubung dengan Kristus dan tidak ingin dilepaskan oleh-Nya.

Menarik bahwa dikatakan: dalam nama Kristus kami meminta: berilah dirimu didamaikan dengan Allah. Bukan kami menyuruh, sekalipun seorang utusan dari Raja Agung dapat menyuruh. Tetapi katakerja ini menunjukkan komunikasi yang baik, seperti Paulus pernah menulis juga bahwa ia berupaya meyakinkan manusia: kita mencari jalan masuk ke lubuk hari saudara kita yang bermasalah. Kita tidak datang dengan perintah, tetapi dengan permintaan.

Berilah dirimu didaimaikan dengan Allah:

  1. Percayalah bahwa pendamaian telah diwujudnyatakan oleh Kristus
  2. Terimalah pendamaian itu
  3. Hiduplah sebagai manusia yang sudah didamaikan, dengan menjadi pembawa damai.